Rain Bow (Rey): Mahasiswa Universitas Darunnajah Jadi Penggerak Pelestarian Kesenian Betawi di Jakarta Selatan

Jakarta Selatan – Di tengah derasnya arus modernisasi dan budaya populer yang membanjiri ruang digital generasi muda, Rain Bow atau yang akrab disapa Rey hadir sebagai sosok inspiratif dalam pelestarian kesenian Betawi. Di usianya yang masih muda, ia membuktikan bahwa tradisi dan budaya lokal tetap bisa hidup, berkembang, dan relevan di era globalisasi.

Rain Bow merupakan mahasiswa semester 3 Program Studi Kewirausahaan Universitas Darunnajah. Selain aktif menjalani perkuliahan, ia juga dikenal sebagai penggerak pelestarian budaya Betawi di Jakarta Selatan. Perpaduan antara semangat akademik dan kecintaan terhadap budaya lokal menjadikan kiprahnya semakin kuat dan berdampak luas.

Lahir di Sukabumi pada 21 Juli 2007 dan kini tinggal di Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Rey tumbuh dengan ketertarikan mendalam terhadap budaya Betawi meskipun bukan berasal dari keturunan Betawi. Sejak kecil, ia sering menyaksikan pertunjukan seni tradisional Betawi dalam berbagai acara, mulai dari peringatan 17 Agustus hingga pentas seni sekolah. Dari kebiasaan tersebut, tumbuh rasa ingin tahu yang perlahan berubah menjadi komitmen untuk melestarikan kesenian Betawi.

Perjalanan Rain Bow dalam dunia seni dimulai dari silat beksi, salah satu warisan budaya Betawi yang sarat nilai filosofi dan kearifan lokal. Ia belajar kepada Baba H. Nopal di Kampung Budaya Silat Beksi. Pada tahun 2023, pertemuannya dengan Aziz Sa’aba, penggiat budaya Betawi, menjadi titik balik yang memperluas pemahamannya tentang berbagai kesenian Betawi, termasuk alat musik tradisional tehyan dan pertunjukan topeng blantek.

Tak berhenti pada silat beksi dan tehyan, Rey juga mendalami palang pintu, gambang kromong, rebana, lenong, tanjidor, hingga ondel-ondel. Ia aktif tampil dalam berbagai acara budaya Betawi, baik di hajatan masyarakat, festival budaya di Balai Kota, hingga acara penyambutan tamu Wali Kota Jakarta Selatan. Bahkan pada tahun 2025, Rain Bow tampil di TVRI membawakan silat beksi, tanjidor, dan palang pintu, mempertegas kiprahnya sebagai generasi muda pelestari budaya Betawi.

Komitmennya terhadap pelestarian budaya semakin nyata ketika pada 2023 ia mendirikan Sanggar Sijantuk di Jakarta Barat. Sanggar ini kini memiliki 23 anggota dan menjadi ruang belajar kesenian Betawi bagi generasi muda. Di sana, para anggota mempelajari silat beksi, hadroh, topeng blantek, tari Betawi, rebana biang, hingga ondel-ondel. Langkah ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya Betawi membutuhkan aksi nyata dan regenerasi yang berkelanjutan.

“Awalnya saya belajar silat untuk perlindungan diri, tapi lama-lama justru jatuh cinta pada keseluruhan budaya Betawi,” ungkap Rey.

Sebagai mahasiswa Program Studi Kewirausahaan Universitas Darunnajah, Rain Bow tidak hanya mempelajari teori bisnis, tetapi juga menerapkan semangat kewirausahaan dalam mengelola sanggar seni dan membangun jejaring budaya. Ia membuktikan bahwa mahasiswa dapat menjadi agen perubahan sosial sekaligus penjaga identitas budaya bangsa.

Kisah Rain Bow menjadi inspirasi bahwa pelestarian kesenian Betawi tidak harus menunggu usia matang. Dengan konsistensi, dedikasi, dan kepedulian, generasi muda mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga budaya Betawi tetap lestari, dikenal, dan dihargai lintas generasi di Jakarta dan Indonesia.

Bagikan:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *